Minggu, 29 Januari 2017
Jeritan Pedagang kaki lima (pasar kaget di batam)
https\\:pasark4get@blogspot.co.id
Penulis. Morris Suroso Simatupang
Batam.
Dalam beberapa tahun terakhir kondisi ekonomi Global mengalami kemerosotan tajam yang dipengaruhi turunnya harga minyak mentah dunia sehingga sangat berpengaruh hampir ke semua sektor pendukung MIGAS. keadaan ini sangat memaksa beberapa Perusahaan besar yang ada di Batam khususnya dunia secara umum, melakukan efisiensi alias penghematan biaya operasional. Dampak buruk dari efisiensi ini adalah masyarakat bawah karyawan, mau tidak mau cepat atau lambat akan segera di PHK oleh Perusahaan tempatnya bekerja.
Peningkatan jumlah pasar kaget di Batam bukan tanpa sebab, yaitu para karyawan yang terkena PHK tadi untuk menyambung hidup mereka mencoba bergabung dengan berjualan di pasar kaget, sehingga dalam beberapa tahun terakhir kegiatan pasar kaget di Batam semakin meningkat jumlah pedagang tetapi tidak dibarengi peningkatan pembeli, ibarat sebuah mercusuar berdiri pongah di antara dataran rendah karena dibandingkan dengan dataran air laut shingga kita melihatnya menjulang tetapi kita tidak bisa membandingkannya dengan Burj Kalifa di Dubai menjulang tinggi di ataran gedung-gedung mewah di sekitarnya. Demikianlah perbandingan pedagang di pasar kaget dan asumsi masyarakat terhadap pedagang di pasar tersebut. Artinya bahwa masyarakat beranggapan bahwa para pedagang di pasar kaget itu memiliki banyak uang yang ternyata tidak, perhitungannya adalah kalau mereka berjualan basah seperti, sayur mayur, ikan basah ayam potong, tomat cabe dll. perhitungan keungtungannya sudah jelas yaitu. bila mereka membeli cabe perkilo Rp.70.000 dan mereka menjualnya di pasar perkilonya hanya Rp.80.000, berarti mereka untung Rp. 10.000, tinggal kalikan aja kalau mereka jual per ons, maksimal per ons Rp.9000. lalu seberapa banyak mereka bawa jualan ke pasar? Dari hasil perbincangan dan curhat-curhatan para pedang di pasar kaget mereka sudah bisa terseyum bila membawa uang Rp.300.000 kotor artinya belum uang lapak, uang lampu dan modal belanja barang, dan ini digunakan untuk bertahan hidup menghidupi keluarga sangat-sangat jauh dari kesan kaya. tidak bisa kita bandingkan dengan para pekerja MIGAS yang mendapat bayaran USD3000/ hari...-((((( jauh panggang dari api.
Para pedagang di Pasar kaget mayoritas memiliki kenderaan sendiri, tetapi jangan salah bahwa mereka memiliki mobil tersebut didapatkan dari tempat mereka bekerja sebelumnya, bukan hasil dari berjualan di pasar kaget.
Pemerintah dalam hal ini harus berperan serta dalam mengelola pedagang kaki lima
bila di bebankan sekali berdagang Rp. 10.000 ditambah biaya lampu antara 5.000 dan 10.000 maka maksimal biaya tetapnya utk pasar Rp. 20.000 dikalikan maksimal 30hari = Rp.600.000 maka bila pemerintah membuaat skema kerjasama dengan model harian maka tidak mungkin para pedagang kakilima dimanusiakan.
http://www.glodokelektronik.net/
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar